Peran Manajemen Risiko Semakin Vital di Masa Pandemi

Menjalankan proses bisnis di tengah-tengah ketidakpastian kiranya membutuhkan dukungan sistem manajemen risiko yang efektif.

ARIES HERU PRASETYO
Odoo image and text block

 

 

Oleh: Aries Heru Prasetyo, Ph.D, CRM - Dosen Sekolah Tinggi   Manajemen PPM

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

 

Sudah setahun lebih dunia berada dalam masa pandemi Covid-19. Di beberapa negara termasuk Brasil dan Indonesia, angka kasus positif Covid-19 masih menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Namun satu hal yang melegakan adalah telah berlangsungnya program vaksinasi nasional Covid-19 yang dilakukan melalui dua kali suntikan. Program ini secara otomatis memberikan angin segar pula bagi dunia usaha. Setidaknya kita dapat berharap agar ke depan, proses bisnis perusahaan dapat kembali berjalan seperti sedia kala.

Menyitir pandangan beberapa ekonom, tahun 2021 dan 2022 ini masih berada pada kategori ‘waspada’. Para pimpinan perusahaan diajak untuk meningkatkan daya pencermatannya pada setiap perubahan yang terjadi mulai dari sisi kesehatan, bisnis, dan ekonomi. Hal ini diperlukan guna mengantisipasi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

Sebab bagaimanapun, pemulihan ekonomi mutlak membutuhkan dukungan gerakan bersama-sama di tingkat dunia. Artinya, pemulihan ekonomi yang hanya terjadi di satu negara saja tak akan cukup berarti untuk menggerakkan roda perekonomian global. Untuk itu kita perlu mempertajam pengamatan pada sisi ekonomi agar dapat memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Menjalankan proses bisnis di tengah-tengah ketidakpastian kiranya membutuhkan dukungan sistem manajemen risiko yang efektif. Tak cukup jika perusahaan hanya mengklaim bahwa pihaknya telah dilengkapi dengan sistem manajemen risiko. Sebaliknya, hasil evaluasi atas efektivitas sistem mutlak diperlukan guna membangun mekanisme yang akan mengawal strategi perusahaan mencapai sasaran di 2021 ini.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika perusahaan ingin menjalankan sistem manajemen risikonya secara efektif, khususnya dalam masa pandemi ini. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengubah siklus pengelolaan risiko, dari tahunan menjadi enam bulanan atau bahkan tiga bulanan.

Proses pengelolaan risiko tersebut dimulai dari upaya membangun komunikasi dan konsultasi, penentuan ruang lingkup, konteks dan kriteria, identifikasi risiko, analisa risiko, evaluasi risiko, perlakuan risiko, pelaporan dan pendokumentasian hingga evaluasi dan pengembangan berkelanjutan.

Sepintas kita mungkin merasa betapa kompleksnya manajemen risiko tersebut. Namun bila saat ini perusahaan sudah menerapkannya maka proses pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan mengevaluasi setiap tahapan yang ada, lalu merumuskan langkah-langkah peningkatan kinerja sistemnya.

Pada masa pandemi ini, efektivitas manajemen risiko dapat dilihat dari sejauh mana para pengambil keputusan menggunakan pertimbangan risiko di setiap pengambilan keputusannya. Semakin sering kita menggunakan pertimbangan tersebut maka manajemen risiko akan menjadi suatu hal yang otomatis.

Studi yang dilakukan di sejumlah perusahaan mengkonfirmasi hal tersebut. Rata-rata perusahaan yang berhasil mengubah model bisnisnya selama masa pandemi ini selalu didukung dengan sistem manajemen risiko yang kuat. Secara rutin, manajemen meninjau setiap indikator yang dijustifikasi sebagai pemicu risiko seperti perubahan tingkat suku bunga, kurs, asumsi laju pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya. Sedikit saja indikator itu bergeser maka analisa skenario risiko langsung dilakukan. Alhasil mekanisme ini mendekatkan prinsip ‘kewaspadaan’ pada sistem manajemen yang ada.

Meningkatkan kinerja sistem manajemen risiko mutlak membutuhkan kompetensi sumber daya manusia yang cukup tinggi. Terlebih setiap dari kita merupakan pemilik risiko yang muncul di tubuh organisasi atau perusahaan. Oleh karenanya, merumuskan kegiatan atau program kerja yang berujung pada upaya mengembangkan budaya sadar risiko menjadi sangat penting.

Propaganda urgensi manajemen risiko kini perlu dikomunikasikan secara lebih tepat sasaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat kesadaran setiap personel yang ada di perusahaan. Demikian pula dengan daya dukung teknologi informasi yang digunakan oleh perusahaan. Pengembangan sistem yang mengarah pada pemanfaatan untuk mengelola risiko akan memudahkan proses pengelolaan.

Ketika perusahaan mempunyai sistem dashboard yang secara real time dapat menginformasikan profil risiko yang tengah dihadapi serta menyediakan alternatif upaya perlakuan risiko, diyakini akan membuat proses pengelolaan risiko terjadi secara lebih efektif. Alhasil pola inilah yang akan meningkatkan keberhasilan perusahaan dalam mencapai target kinerja di tahun ini. Semoga!

Salam sehat untuk Anda sekeluarga, sukses senantiasa!

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.